Ticker

6/recent/ticker-posts

Prihatin, Budaya Timur Tengah Telah Merasuki Budaya Nusantara….!!!

 


Oleh: Anton Charliyan (Pemerhati Seni dan Budaya Nusantara)

SEGALA sesuatu yg diambil.atas dasar bau bau  budaya Timur Tengah, khususnya Saudi Arabia ( maaf bukan bermaksud mendeskriditkan negara tertentu , ini sesuai judulnya Saudis Traveling Sex Halal ), maka apapun bentuknya bila ada label Saudi bisa jadi halal???  Tanpa adanya sweeping, razia dan demo...inikah yang dimaksud wisata halal???

Sementara jika pakai label Nusantara, kegiatan agama saja bisa jadi bid'ah,,,,, tahlilan bid’ah, rajaban bid’ah, maulidan bid’ah   ( kecuali di helaran Monas) tumpengan bid’ah, syukuran, ulang tahun bid’ah. hajat panen bid’ah, ziarah kubur ke orang tua bid’ah, sungkeman bid’ah. hornat bendera juga bid’ah.

Pakai pangsi  (pakaian adat Sunda tempo dulu) dianggap dukun, tapi kalo pakai gamis langsung dianggap suci dan agamis. Pokoknya yang ada bau bau adat dan Budaya Nusantara bisa masuk dalam kategori bid’ah dan musrik. Termasuk kata-kata Islam itu sendiri jika pakai Nusantara yakni ISLAM NUSANTARA bisa jadi musyrik Padahal hanya sekedar menujukan tempat keberadaan orang-orang muslim yang ada di wilayah Nusantara saja.

Adapun menyangkut ajaranya baik Rukun Iman maupun Rukun  Islamnya tidak ada yang berubah satu incipun juga. Tapi sebaliknya, jika menyebut Islam Yaman.Turki. Iraq. Iran dll apalagi  Saudi. Pokoknya yang ada bau bau negara teluknya,  sekalipun banyak bedanya, tidak pernah jadi masalah.. Pokoknya pasti BENARnya,

Yang lebih unik lagi jika masyarakat ada yang buka Café,  Karaoke, panti pijat. Pasti langsung disweeping diobrak abrik dengan labelisasi haram demi tegaknya amar maruf nahi munkar . Tapi jika buka Cafee. Karaoke, Panti pijit dengan  pakai huruf Arab... khususon di Puncak Bogor dan Cianjur, maka otomatis jadi aman dan halal...sekali lagi tanpa larangan.tanpa demo , tanpa sweefing. Ini fakta dan silakan cek langsung ke sana.

Sementara di daerah lain, semisal  di Priangan Timur terutama Tasik, Ciamis, Garut , Wow jangan coba-coba..., jangankan mau bikin hal tsb , mau mendirikan RUMAH DUKA AGAMA NON MUSLIM saja (Rumah duka lhooo,  bukan Rumah Ibadah ). langsung protes, demo malah berani buat edaran larangan secara tertulis lagi ??? , dan masyarakatpun  diam tidak bisa berbuat apa-apa, karena siapapun  yang menentang akan dilabeli tidak Islami dan dianggap sebagai pro Asing dan Aseng.

Yang seakan-akan semuanya baik agama maupun adat & budaya harus berkiblat ke negara-negara Teluk, Inikah mungkin yg dinamakan Arab Spring ???

Benar-bener  Ane jadi super bingung.???  Masih adakah kira-kira yang namanya toleransi di kota ini ??? Masih  beranikah kita untuk Ngamumule Adat Tradisi Budaya kita sendiri tanpa takut dengan labelisasi labelisasi tertentu ???  Ataukah kita semua sudah jadi Tuan Asing di rumah sendiri ???

Yang sudah tidak bangga dan takut dengan tradisinya sendiri. Yang asing dengan baju pangsi , iket. blangkon.dll; yang takut dg syukuran, ziarah kubur ke orang tua.tahlilan, sungkem .hormat bendera dll...,

Maka dengan adanya  kondisi tersebut , jangan jangan saat ini , kita semua  yang sudah jadi toleran dengan sikap sikap intoleransi itu sendiri ???

Saya hanya bertanya pada rumput yang bergoyang.(***

Posting Komentar

0 Komentar

Yayasan Berkah Lintas Pena

Yayasan Berkah Lintas Pena

LBH Tasikmalaya

LBH Tasikmalaya

Direksi PT LINTAS PENA MEDIA

Direksi PT LINTAS PENA MEDIA

PT LINTAS PENA MEDIA

PT LINTAS PENA MEDIA